Pancarkan.com
Peristiwa

Antisipasi DBD, Puskesmas Benowo-Pakal Beri Pemahaman Masyarakat

SURABAYA, PETISI.CO – Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular yang dapat menimbulkan wabah. Penyakit ini merupakan salah satu masalah kesehatan di Indonesia, yang dapat menimbulkan kekkawatiran, karena perjalanan penyakitnya yang cepat dan dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat.

Upaya Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Kesehatan (Puskesmas) dalam mengantisipasi hal tersebut, diantaranya, dengan memberikan pemahaman kepada warga.

Kepala Puskesmas Benowo Kecamatan Pakal dr. Edy P melaksanakan kegiatan sosialisasi, tentang bagaimana perjalanan virus dan cara pencegahan DBD. Sosialisasi dilaksanakan di Aula Kantor Kecamatan Pakal Surabaya, Kamis (21/2/2019).

Sosialisasi tersebut dihadiri masyarakat Pakal. dr. Edy P menjelaskan, penularan DBD umumnya melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti, juga ditularkan oleh Aedes Albopictus yang biasanya nyamuk tersebut hidup dikebun – kebun.

Masa Inkubasi DBD biasanya 4 – 7 hari atau bahkan 3 – 15 hari sesudah masa tunas/inkubasi selama 3 – 15 hari, orang yang tertular dapat mengalami/menderita penyakit ini dalam salah satu dari 4 bentuk, diantaranya, Bentuk Abortif, penderita tidak merasakan suatu gejala apapun, Dengue klasik, penderita mengalami demam tinggi selama 4 – 7 hari nyeri – nyeri pada tulang, diikuti dengan munculnya bintik – bintik atau bercak – bercak pendarahan dibawah kulit, Dengue Haemorhagig Fever ( Demam Berdarah Dengue/DBD) gejalanya sama dengan Dengue Klasik ditambah dengan pendarahan dari hidung (Epitaksis/mimisan), mulut, dubur dan sebagainya, Dengue Syok Sindrom, gejalanya sama dengan DBD ditambah dengan syok/presyok, bentuk ini sering berujung pada kematian.

Sementara mekanisme penularan, yaitu jika seorang yang didalam darahnya mengandung virus Dengue merupakan sumber penularan DBD, virus ini berada dalam darah selama 4 – 7 hari. Bila penderita digigit nyamuk penular, maka virus dalam darah akan ikut terisap masuk kedalam lambung nyamuk, selanjutnya virus akan memperbanyak diri dan tersebar di berbagai jaringan tubuh nyamuk, termasuk didalam kelenjar liurnya.

“Kira – kira 1 minggu setelah menghisap darah penderita, nyamuk tersebut siap menularkan pada orang lain. Virus ini akan tetap berada dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya dan menjadi penular (Infektif),” terang dr. Edy.

DBD pada umumnya menyerang anak – anak sekitar usia 15 tahun, tetapi dalam dekade terakhir ini terlihat adanya kecenderungan proporsi pada dewasa.

“Biasanya nyamuk Aedes Aegypti betina mencari mangsa pada siang hari. Aktifitas menggigit biasanya mulai pagi sampai petang hari dengan 2 puncak aktifitas antara pukul 09.00 – 10.00 dan 16.00 – 17.00 wib,” ungkapnya.

Adapun tempat – tempat perkembang biakan nyamuk Aedes Aegypti, yaitu, tempat penampungan air untuk keperluan sehari – hari, seperti Drum, tangki, tempayan, bak mandi/wc dan ember, dan tempat penampungan yang bukan untuk keperluan sehari – hari, seperti tempat minum burung, vas bunga, barang – barang bekas (ban, kaleng, botol, plastik dan lainnya).

Selain itu, nyamuk tersebut juga dapat berkembang biak pada tempat penampungan air alamiah, seperti lobang batu/pelepah daun, tempurung kelapa, dan potongan bambu.

Terkait dengan pencegahan, tidak ada vaksin yang tersedia secara komersial untuk penyakit DBD, pencegahan utama demam berdarah terletak pada menghapuskan atau mengurangi vektor nyamuk DBD. Kemudian pemberantasan sarang nyamuk DBD adalah kegiatan memberantas telur, jentik, dan kepompong nyamuk DBD ditempat – tempat pembiakannya.

Cara pemberantasan sarang nyamuk DBD dapat dilakukan dengan cara 3 M, yaitu, Menguras, Menutup, Mengubur. Selain itu dapat ditambah dengan cara lain yang disebut 3M Plus, mengganti air, memperbaiki saluran, menutup lubang pada bambu/pohon dengan tanah, menaburkan bubuk Larvasida, memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, memasang kawat kasa, menghindari kebiasaan menggantung baju dalam kamar, menggunakan kelambu, memakai obat yang dapat mencegah gigitan nyamuk.

Fogging dilaksanakan juga sebagai bagian dari kegiatan Penanggulangan Fokus pada kejadian kasus Demam Berdarah. Tujuannya, untuk membatasi atau memutus rantai penularan DBD dan mencegah terjadinya KLB dilokasi tempat tinggal penderita dan rumah atau bangunan sekitar serta tempat – tempat umum yang berpotensi menjadi sumber penularan DBD lebih lanjut.

Adapun langkah – langkah pelaksanaan Fogging melalui Puskesmas setempat, diantaranya, Puskesmas berkordinasi tentang rencana pelaksanaan fogging dan meminta ketua rw/rt agar dapat membantu kelancaran pelaksanaan fogging, ketua rw/rt menyampaikan jadwal kegiatan dan mengajak warga untuk berpartisipasi, penggerakan warga masyarakat dalam PSN.

Selanjutnya, sebelumnya langkah – langkah yang dilakukan dalam pelaksanaan fogging tersebut, yaitu, penyuluhan, penyemprotan, dilakukan oleh petugas Puskesmas, petugas penyemprot adalah petugas Puskesmas atau petugas harian yang sudah terlatih, ketua rt, tokoh masyarakat, atau kader mendampingi petugas dalam kegiatan penyemprotan. (bah/ris)

 

The post Antisipasi DBD, Puskesmas Benowo-Pakal Beri Pemahaman Masyarakat appeared first on Petisi.

Sumber Berita : PETISI

Related posts

Apel Gelar Kesiapan Pasukan Latihan Gabungan TNI Tri Dharma Yudha 2019

Paguyuban PKL Manukan Senang Redanya Covid 19 di Surabaya

Babinsa Koramil Kemlagi Dampingi Poktan Atasi Hama Tanaman Padi

redaksi