
Oleh: Tudiono*
Keluarga mereka beberapa kali berpindah tempat tinggal di kawasan Mbebekan. Rumah terakhir orang tua mereka berada di Jalan Kelapa Sawit No. 77, di bagian selatan kampung.
Rumah itu tidak terlalu besar, tetapi juga tidak bisa disebut kecil. Sebagian dindingnya bahkan tidak sepenuhnya diplester halus, sehingga susunan batu bata dan semen masih tampak jelas.
Di rumah sederhana itulah banyak kenangan penting terukir.
Kakak mereka, Mulyono, memulai usaha agen susu. Bersama-sama, Mulyono, Sugeng, dan Tudi menjalankan usaha tersebut dengan penuh kesungguhan.
Hari mereka sering dimulai sejak pukul 03.30 dini hari. Susu dari koperasi di Pujon atau Batu diterima, kemudian dipindahkan ke botol-botol kaca, dikemas, dan didistribusikan kepada pelanggan sebelum mereka berangkat sekolah yang masuk pada pukul 06.30 pagi.
Di samping sumur yang dibangun sendiri oleh ayah mereka yang berprofesi sebagai tukang batu, ketiga bersaudara itu sering mencuci ratusan botol susu secara bergantian.
Suatu hari pada sekitar tahun 1984, ketika sedang mencuci botol bersama, Sugeng bertanya kepada adiknya:
“Tud, sepuluh atau lima belas tahun lagi kita akan jadi apa ya?”
Pertanyaan sederhana itu melayang begitu saja di udara pagi.
Tidak ada yang mengetahui jawabannya saat itu.
Namun, takdir Allah ternyata telah menyiapkan jalan yang tidak pernah mereka bayangkan.
Sekitar sepuluh tahun kemudian, kedua kakak beradik tersebut sama-sama diterima sebagai diplomat Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.(bersambung)
*)penulis adalah Konsul Jenderal Republik Indonesia di Cape Town







