Kolom Opini: Dr. Wahyu Abdul Jafar, M.HI (Dosen Fakultas Syariah UIN Jurai Siwo Lampung)

oleh

Ketika Integritas Akademik Dipertaruhkan

Perguruan tinggi seharusnya menjadi rumah bagi ilmu pengetahuan, tempat gagasan diuji dengan akal sehat, data diperiksa dengan teliti, dan kebenaran dicari dengan kejujuran. Karena itu, ketika integritas akademik mulai diabaikan, yang sesungguhnya dipertaruhkan bukan hanya nama baik seorang dosen, mahasiswa, atau peneliti, tetapi juga wibawa ilmu pengetahuan itu sendiri. Belakangan ini, kita semakin akrab dengan berbagai persoalan akademik: plagiarisme, manipulasi data, fabrikasi penelitian, konflik kepentingan, kepengarangan yang tidak semestinya, hingga praktik publikasi yang hanya mengejar jumlah tanpa memperhatikan kualitas. Persoalan tersebut mungkin terlihat sebagai pelanggaran administratif, tetapi sesungguhnya memiliki dimensi moral yang jauh lebih dalam.

Ilmu pengetahuan dibangun di atas kepercayaan. Pembaca percaya bahwa data yang disajikan peneliti memang benar. Editor percaya bahwa naskah yang dikirim merupakan karya yang dapat dipertanggungjawabkan. Institusi percaya bahwa capaian akademik dosen dan mahasiswa diperoleh melalui proses yang jujur. Masyarakat pun percaya bahwa hasil penelitian perguruan tinggi dapat menjadi dasar untuk memahami dan menyelesaikan persoalan kehidupan. Ketika kepercayaan itu rusak, ilmu pengetahuan ikut kehilangan pijakannya.

Plagiarisme bukan sekadar soal menyalin

Plagiarisme sering dipahami secara sederhana sebagai tindakan menyalin tulisan orang lain tanpa mencantumkan sumber. Pemahaman tersebut benar, tetapi belum cukup. Persoalan plagiarisme pada dasarnya menyangkut kejujuran intelektual. Ketika seseorang mengambil gagasan, argumentasi, data, atau tulisan orang lain dan kemudian menyajikannya seolah-olah sebagai hasil pemikirannya sendiri, yang dicuri bukan hanya rangkaian kata. Yang diambil adalah hak intelektual dan kerja keras orang lain. Ironisnya, di tengah kemudahan teknologi digital dan kecerdasan buatan, godaan untuk melakukan tindakan semacam itu semakin besar. Berbagai informasi dapat ditemukan dalam hitungan detik. Tulisan dapat dibuat dengan cepat. Paragraf dapat diterjemahkan secara otomatis. Bahkan sebuah artikel dapat disusun tanpa penulis benar-benar memahami gagasan yang ada di dalamnya.

Teknologi sebenarnya bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika teknologi digunakan untuk menggantikan kejujuran. Karena itu, pendidikan tentang integritas akademik tidak boleh hanya mengajarkan mahasiswa bagaimana menggunakan aplikasi pendeteksi plagiarisme. Lebih penting dari itu adalah mengajarkan mengapa mencantumkan sumber merupakan bentuk penghormatan kepada pemilik gagasan dan mengapa kejujuran merupakan bagian dari martabat seorang akademisi. Jangan sampai kita terjebak pada logika: selama persentase kemiripan rendah, berarti tulisan sudah aman. Padahal, integritas akademik jauh lebih luas daripada angka yang muncul pada sebuah perangkat lunak.

Tekanan untuk berprestasi

Ada persoalan lain yang juga perlu kita bicarakan secara jujur: budaya akademik yang terlalu menekankan capaian kuantitatif. Dosen dituntut menghasilkan publikasi. Mahasiswa dituntut menyelesaikan tugas dan penelitian. Perguruan tinggi mengejar reputasi, akreditasi, dan pemeringkatan. Peneliti mengejar hibah dan rekognisi. Semua itu pada dasarnya bukan sesuatu yang salah. Perguruan tinggi memang membutuhkan produktivitas. Masalah muncul ketika kuantitas menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Dalam situasi seperti itu, muncul godaan untuk mengambil jalan pintas. Artikel dikerjakan secara tergesa-gesa. Referensi dicantumkan tanpa benar-benar dibaca. Data dipilih hanya karena sesuai dengan hipotesis. Nama seseorang dimasukkan sebagai penulis meskipun tidak memiliki kontribusi yang memadai. Bahkan tidak jarang muncul praktik membeli jasa penulisan atau menggunakan layanan publikasi yang menjanjikan hasil secara instan. Jika budaya semacam ini dibiarkan, kita sedang membangun generasi akademisi yang pandai mengejar angka, tetapi kehilangan kecintaan terhadap proses ilmiah. Padahal, ilmu pengetahuan tidak pernah lahir dari ketergesaan.

Konflik kepentingan harus dibuka

Integritas akademik juga berkaitan erat dengan konflik kepentingan. Konflik kepentingan tidak selalu berarti seseorang pasti melakukan pelanggaran. Seorang peneliti dapat memiliki hubungan profesional, finansial, kelembagaan, atau kepentingan tertentu yang berpotensi memengaruhi objektivitasnya. Persoalannya adalah apakah potensi tersebut diungkapkan secara terbuka dan dikelola dengan benar. Keterbukaan menjadi kunci. Seorang peneliti yang menerima pendanaan dari lembaga tertentu, misalnya, perlu menjelaskan sumber pendanaan tersebut. Seorang editor yang memiliki hubungan dekat dengan penulis perlu menghindari proses editorial yang dapat menimbulkan keberpihakan. Seorang reviewer yang memiliki kepentingan langsung terhadap penelitian yang sedang dinilai seharusnya berani mengundurkan diri dari proses review. Tidak ada manusia yang sepenuhnya bebas dari kepentingan. Justru karena itulah sistem akademik membutuhkan transparansi. Integritas bukan berarti tidak memiliki kepentingan. Integritas berarti jujur terhadap kepentingan yang kita miliki dan tidak membiarkannya merusak objektivitas akademik.

Kepengarangan juga soal tanggung jawab

Persoalan lain yang sering dianggap sepele adalah kepengarangan. Dalam dunia akademik, nama yang tercantum dalam sebuah artikel bukan sekadar formalitas. Nama tersebut membawa tanggung jawab terhadap isi tulisan. Karena itu, memasukkan nama seseorang yang tidak memberikan kontribusi berarti atau menghilangkan nama orang yang sebenarnya bekerja dalam penelitian bukan persoalan kecil. Praktik semacam ini dapat mencederai prinsip keadilan akademik. Begitu pula dengan fenomena seseorang mencantumkan nama atasannya, pejabat, atau tokoh tertentu semata-mata karena jabatan atau hubungan struktural. Jika kontribusi ilmiahnya tidak jelas, praktik tersebut justru memperlihatkan bahwa budaya patronase masih hidup di ruang akademik. Perguruan tinggi semestinya menjadi tempat di mana kontribusi ilmiah dihargai berdasarkan kerja, bukan berdasarkan jabatan.

Membangun budaya integritas

Lalu apa yang harus dilakukan? Pertama, pendidikan integritas akademik harus dimulai sejak mahasiswa memasuki perguruan tinggi. Mereka perlu memahami cara mengutip, parafrase, menggunakan data, menyusun referensi, dan bekerja dengan sumber digital. Tetapi lebih dari keterampilan teknis, mereka perlu memahami nilai yang mendasarinya: kejujuran. Kedua, perguruan tinggi harus memiliki mekanisme yang jelas untuk menangani dugaan pelanggaran akademik. Prosesnya harus adil, transparan, dan tidak boleh bergantung pada siapa yang melakukan pelanggaran. Integritas akan kehilangan makna jika aturan hanya keras kepada mereka yang tidak memiliki kekuasaan. Ketiga, dosen, peneliti, editor, reviewer, dan pimpinan perguruan tinggi harus memberikan keteladanan. Sulit mengajarkan integritas kepada mahasiswa jika mereka melihat praktik yang berbeda dari para seniornya.

Keempat, budaya akademik perlu menggeser orientasi dari publish or perish menjadi quality and integrity. Publikasi memang penting, tetapi kualitas dan kejujuran jauh lebih penting. Satu penelitian yang dikerjakan dengan serius dan dapat dipertanggungjawabkan jauh lebih berharga daripada banyak publikasi yang lahir dari proses yang tidak sehat. Dan terakhir, kita perlu membangun keberanian untuk mengatakan bahwa tidak semua hal harus dilakukan hanya karena bisa dilakukan. Teknologi dapat membantu menulis, tetapi tidak dapat menggantikan tanggung jawab moral penulis. Aplikasi dapat mendeteksi kemiripan, tetapi tidak dapat sepenuhnya menentukan kejujuran seseorang. Sistem dapat memberikan penghargaan, tetapi tidak selalu mampu mengukur integritas.

Pada akhirnya, integritas akademik kembali kepada manusia. Perguruan tinggi tidak hanya bertugas menghasilkan orang-orang yang pintar. Perguruan tinggi juga memiliki tanggung jawab melahirkan manusia yang dapat dipercaya. Sebab, kecerdasan tanpa integritas dapat menjadi masalah, sementara ilmu tanpa etika dapat kehilangan arah. Kita mungkin dapat menyembunyikan plagiarisme dari perangkat lunak, memoles data agar terlihat meyakinkan, atau menghindari konflik kepentingan dengan berbagai cara. Tetapi ilmu pengetahuan yang dibangun di atas ketidakjujuran pada akhirnya akan rapuh. Karena itu, menjaga integritas akademik bukan sekadar memenuhi aturan kampus, pedoman jurnal, atau standar lembaga pengindeks. Ia adalah bentuk tanggung jawab moral kepada ilmu pengetahuan dan kepada masyarakat yang menaruh harapan besar pada perguruan tinggi. Di ruang akademik, prestasi boleh dikejar setinggi mungkin. Tetapi integritas tidak boleh ditukar dengan prestasi apa pun.

 

 

No More Posts Available.

No more pages to load.