
Oleh H.S. Makin Rahmat*
InshaAllah, Senin malam Selasa (15/16 Juni 2026) mengawali tahun baru Hijriyah, 1 Muharam 1448. Sebagai hamba beriman tentu harus yakin bahwa Allah SWT Sang Khaliq (Pencipta) mempunyai Kehendak terhadap para kekasihNya, para Nabi, Rasul dan hamba-hamba terpilih.
Secara teknis, selain kemuliaan bulan Muharam, ada hari Asyura (10 Muharam) dipercaya sebagai peringatan atas anugerah, kemuliaan dan kehormatan yang diberikan Allah SWT.
Menurut pendapat imam Badaruddin al-‘Aini dalam kitab Umdatul Qari’ Syarah Shahih Bukhari, juz 11, halaman 117, beliau menjelaskan, bahwa di hari ‘Asyura Allah SWT memberikan kemuliaan dan kehormatan kepada sepuluh nabi-Nya.
Yaitu 1, kemenangan Nabi Musa atas Fir’aun, 2, pendaratan kapal Nabi Nuh, 3, keselamatan Nabi Yunus bisa keluar dari perut ikan, 4, ampunan Allah untuk Nabi Adam AS, 5, keselamatan Nabi Yusuf keluar dari sumur pembuangan, 6, kelahiran Nabi Isa AS, 7, ampunan Allah untuk Nabi Dawud, 8, kelahiran Nabi Ibrahim AS, 9, Nabi Ya’qub dapat kembali melihat, dan 10, ampunan Allah untuk Nabi Muhammad SAW, baik kesalahan yang telah lampau maupun yang akan datang.
Selain di atas, para ulama juga menjelaskan beberapa keistimewaan para nabi di hari ‘Asyura, yaitu kenaikan Nabi Idris menuju tempat di langit, kesembuhan Nabi Ayub dari penyakit, dan pengangkatan Nabi Sulaiman menjadi raja.
Dari beberapa kejadian tersebut, hari ‘Asyura adalah hari yang amat istimewa. Karena itu, hari ‘Asyura menjadi momen yang amat baik untuk meniru akhlak para nabi, akhlak yang mulia, lemah lembut, dan menjunjung tinggi kasih sayang, dan kerukunan. Menghindari terhadap kejelekan, penghinaan, kekerasan, permusuhan, dan adu domba. Ingat, kebaikan di bulan ini dilipatgandakan pahalanya. Kejelekan di bulan ini dilipatkan siksa dan malapetakanya.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, Juz 8 halaman 9 menjelaskan sebuah hadits shahih riwayat Imam Muslim: Dari Ibnu Abbas RS, beliau berkata: Rasulullah SAW hadir di kota Madinah, kemudian beliau menjumpai orang Yahudi berpuasa di bulan ‘Asyura, kemudian mereka ditanya tentang puasanya tersebut, mereka menjawab: hari ini adalah hari di mana Allah SWT memberikan kemenangan kepada Nabi Musa AS dan Bani Israil atas Fir’aun, maka kami berpuasa untuk menghormati Nabi Musa.Kemudian Nabi bersabda: Kami (umat Islam) lebih utama dengan Nabi Musa dibanding dengan kalian. Kemudian Nabi Muhammad memerintahkan untuk berpuasa di hari ‘Asyura.”
Kembali kepada Muharam sebagai bulan mulia, tentu tidak lepas dari firman Allah SWT, yang artinya:
“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Diantaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu.” (QS. At-Taubah: 36). Jadi kembali kepada peristiwa kenabian yang terangkum dari literasi firman Allah, hadits dan sejarah, tentu masih memunculkan penafsiran yang dianggap bisa keluar dari pakem atau dituding bid’ah. Padahal selama antara larangan dan anjuran tidak berdampak pada ubudiyah maghdoh, tentu kita harus lebih bijak dalam bersikap.
Tradisi Minum Susu Putih
Salah satu amalan yang menjadi tradisi dan bisa membangkitkan motivasi dalam meraih keridhaan Allah SWT, adalah tradisi minum susu putih di awal bulan Muharram (Tahun Baru Islam) bukanlah sunah yang berasal langsung dari Rasulullah SAW, melainkan bentuk tafaul (harapan atau optimisme) yang dianjurkan oleh para ulama, seperti yang dilakukan Abuya Sayyid Muhammad Alawy Al Maliki. Simbolik dan anjuran ini dirangkum dengan jelas: Makna dan Tujuan Simbol Kesucian: warna putih pada susu melambangkan kebersihan, kesucian, dan nutrisi. Dengan harapan meminum susu putih agar sepanjang tahun yang baru, lembaran hidup kita dijaga tetap “putih”, bersih dari dosa, dan dipenuhi dengan kebaikan serta keberkahan.
Bagaimana tata cara minum dan waktunya? Menurut Sayyid Muhammad dianjurkan pada malam 1 Muharram (setelah Magrib) hingga sebelum waktu Subuh. Adab minum mempersiapkan segelas susu putih, jangan lupa membaca Basmalah, menggunakan tangan kanan dan meminumnya sambil duduk sambil membaca doa: Allahumma bariklana fihi wa zidna minhu (Ya Allah, berkahilah minuman kami dan tambahkanlah keberkahan darinya untuk kami).
Dari uraian tersebut, mari kita wujudkan, awal tahun baru Islam untuk bergerak positif dalam rangkaian kehidupan sehari-hari. Sebagaimana firman Allah SWT: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18).
Jangan sampai kita hanya fokus pada kebenaran akal dan subyektif, tanpa memperhatikan norma kehidupan di akhirat kelak yang kekal abadi. Allah sudah memperingatkan: “Katakanlah, ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.’” (QS. Al-Kahfi: 103-104). Semoga tulisan ini memberikan kemanfaatan bagi kita, khususnya Al Faqir. Wallahu A’am bis-showab. (#)
*)penulis adalah Wartawan Utama/Tour Leader Haji-Umroh


