
Oleh: Tudiono*
Di belakang rumah mengalir sungai kecil yang airnya kurang bersih karena di bagian hulu terdapat peternakan babi. Meski demikian, kawasan sekitar rumah tetap menjadi ruang bermain dan belajar kehidupan bagi mereka.
Di seberang sungai terdapat rumah bagian dari kawasan elit Buah-buahan. Di sanalah Sugeng pernah “ngenger”, membantu bekerja secara informal demi mendapatkan sedikit penghasilan tambahan. Tidak jarang ia pulang membawa makanan untuk keluarga.
Di samping kawasan itu terbentang sawah luas milik Wak Run. Sawah tersebut menjadi arena bermain favorit bagi anak-anak kampung, mulai dari berburu layang-layang putus hingga membangun gubuk-gubukan sederhana.
Namun, dari seluruh kenangan masa kecil itu, ada satu suasana yang paling membekas dalam hati Tudiono: kesunyian.
Pada pagi hari sekitar pukul 10.00, ketika kakak-kakaknya sudah berangkat sekolah, teman-teman sebaya juga tidak ada, sementara ayah dan ibunya bekerja, ia sering duduk sendirian memandangi hamparan sawah.
Dari kejauhan, kadang terlihat layang-layang yang sedang diadu dari arah Desa Kocek atau Mergan.
Kesunyian itu sering kali terasa semakin dalam ketika terdengar suara dari terop hajatan di desa yang memutar lagu Rhoma Irama berjudul Buta:
“Terangnya dunia tak dapat dipandanginya, indahnya dunia tak dapat dinikmatinya…”
Lagu itu melayang dari kejauhan, menyatu dengan angin, sawah, dan langit pagi Malang.
Kadang lagu yang sama terdengar ketika ia duduk di trap jalan dekat rumah Pak Atim, tetangga yang rumahnya berada di seberang jalan menuju Sungai Metro.
Saat itu ia tidak memahami, mengapa suasana tersebut terasa begitu menyentuh.

Bertahun-tahun kemudian, ia menyadari bahwa kesunyian, perjuangan, dan kesederhanaan masa kecil itulah yang ikut membentuk karakter, daya tahan, dan mimpi-mimpi yang akhirnya membawanya menempuh perjalanan panjang dari Mbebekan menuju Afrika Selatan.
Perjalanan itu menjadi pengingat bahwa asal-usul bukanlah batas. Dari kampung kecil, dari sungai sederhana, dari rumah yang dindingnya belum sepenuhnya diplester, seseorang tetap dapat melangkah jauh selama ia mau berusaha, berdoa, dan terus menjaga harapan.
Karena sering kali, jalan hidup yang paling indah justru berawal dari tempat-tempat yang paling sederhana.
Di depan trap jalan yang menurun menuju Sungai Metro, sekitar sepuluh meter dari tempat Tudi sering duduk termenung, berdirilah sebuah pohon randu alas yang menjulang tinggi ke langit.
Batangnya besar, kokoh, dan dipenuhi duri-duri keras. Cabang-cabangnya membentang ke berbagai arah, seolah menjadi saksi bisu perjalanan waktu dan kehidupan warga kampung Mbebekan.
Bagi Tudi, pohon randu alas itu bukan sekadar pohon. Ia adalah simbol keteguhan. Ia berdiri menghadapi panas, hujan, angin, dan perubahan zaman, sebagaimana manusia harus bertahan menghadapi berbagai ujian kehidupan.(bersambung)
*)penulis adalah Konsul Jenderal Republik Indonesia di Cape Town





