
Mangaung, pancarkan.com – Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Cape Town bekerja sama dengan Pemerintah Kota Metropolitan Mangaung menyelenggarakan Indonesia–South Africa Business Meeting bertema “Unlocking Opportunities Together.”
Acara tersebut dihadiri kalangan dunia usaha, Kamar Dagang dan Industri, serta asosiasi pengusaha dari Provinsi Free State dan Executive Mayor of Mangaung Metropolitan Municipality, Councillor Gregory Nthatisi.
Dalam sambutannya Councillor Gregory Nthatisi menyoroti kesamaan sejarah perjuangan antara Indonesia dan Mangaung, Provinsi Free State.
Ia menyampaikan bahwa sebagaimana Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan yang menjadi simbol perjuangan dan keberanian rakyat Indonesia, Free State juga memiliki tempat yang sangat penting dalam sejarah perjuangan Afrika Selatan.
Menurut Nthatisi, Free State merupakan salah satu pusat lahirnya gagasan perjuangan dan persatuan bangsa Afrika Selatan, tempat para tokoh penting berkumpul serta berkontribusi dalam penyusunan konstitusi dan perjalanan menuju negara Afrika Selatan yang demokratis.
Kesamaan nilai perjuangan, semangat persatuan, dan ketahanan tersebut, menurutnya, menjadi fondasi yang kuat untuk membangun kemitraan yang lebih erat antara Mangaung dan Indonesia.
Ia juga menyampaikan optimismenya terhadap penguatan hubungan kedua pihak, termasuk melalui penjajakan kerja sama Sister City antara Mangaung dan Surabaya, yang diharapkan dapat menghasilkan proyek-proyek konkret dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kedua daerah.
Dalam kesempatan yang sama, Konsul Jenderal Republik Indonesia di Cape Town, Tudiono, menyampaikan bahwa Indonesia dan Afrika Selatan memiliki peluang besar untuk memperkuat kemitraan ekonomi di tengah perubahan lanskap ekonomi global yang berlangsung cepat.
Diversifikasi pasar, restrukturisasi rantai pasok, dan kebutuhan akan mitra yang andal menjadi momentum baru bagi kedua negara untuk memperluas kerja sama yang saling menguntungkan.
“Pertemuan ini tidak hanya penting, tetapi juga sangat tepat waktunya. Dunia sedang mengalami perubahan besar. Rantai pasok global sedang direkonfigurasi, pasar semakin beragam, dan negara-negara semakin mencari mitra yang dapat diandalkan serta kerja sama ekonomi yang tangguh,” ujarnya Kamis (18/06).
Menurut Tudiono, Indonesia dan Afrika Selatan memiliki posisi strategis untuk memperdalam kerja sama. Selain sama-sama anggota BRICS, kedua negara juga merupakan kekuatan ekonomi penting di kawasan Asia Tenggara dan Afrika yang memiliki visi serupa dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, pembangunan industri, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Indonesia sendiri saat ini merupakan salah satu ekonomi paling dinamis di Asia. Dengan jumlah penduduk sekitar 286 juta jiwa, di mana hampir 68 persen berada pada usia produktif, Indonesia menawarkan pasar domestik yang besar, tenaga kerja muda, serta fondasi yang kuat bagi inovasi dan pertumbuhan.
Di tengah ketidakpastian global, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan dengan pertumbuhan sekitar lima persen dalam beberapa tahun terakhir.
Kinerja investasi juga terus meningkat dan pada 2025 mencapai sekitar USD 106 miliar, mencerminkan tingginya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Pemerintah Indonesia saat ini juga tengah mendorong berbagai agenda transformasi ekonomi, antara lain penguatan ketahanan pangan dan energi, hilirisasi industri, transisi energi, pembangunan infrastruktur, transformasi digital, serta pengembangan sumber daya manusia.
“Prioritas-prioritas tersebut membuka peluang yang sangat luas bagi investasi, transfer teknologi, dan kolaborasi bisnis internasional,” kata Tudiono.
Hubungan ekonomi Indonesia dan Afrika Selatan juga menunjukkan tren positif. Salah satu indikatornya adalah meningkatnya partisipasi perusahaan Indonesia dalam Africa Food Show 2026 di Cape Town. Sebanyak 12 perusahaan Indonesia mengikuti pameran tersebut, dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan ini menunjukkan semakin besarnya minat dan kepercayaan dunia usaha Indonesia untuk memperluas pasar di Afrika Selatan dan kawasan Afrika secara umum.
Meski demikian, Tudiono menilai masih terdapat ruang yang sangat besar untuk meningkatkan kerja sama ekonomi kedua negara.
“Yang terpenting, ekonomi Indonesia dan Free State memiliki karakter yang saling melengkapi,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Free State memiliki kekuatan pada sektor pertanian, agroindustri, pertambangan, energi terbarukan, manufaktur, logistik, dan pariwisata.
Sementara itu, Indonesia telah mengembangkan pengalaman yang cukup luas dalam pembangunan industri, pengolahan pangan, manajemen perkotaan, dan inovasi digital.
Kombinasi kekuatan tersebut diyakini dapat menjadi fondasi yang kokoh bagi kerja sama yang saling menguntungkan, berkelanjutan, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat kedua pihak.
Salah satu perkembangan yang dinilai menjanjikan adalah inisiatif kerja sama Sister City antara Mangaung Metropolitan Municipality dan Kota Surabaya.
Menurut Tudiono, Pemerintah Mangaung telah menunjukkan komitmen yang kuat melalui kunjungan delegasi ke Indonesia pada November 2025 dan penjajakan berbagai bidang kerja sama, khususnya pengelolaan sampah dan layanan lingkungan.
Hasil pembahasan tersebut telah dituangkan dalam Minutes of Meeting, sementara kedua pihak kini tengah mempersiapkan Letter of Intent sebagai langkah menuju kerja sama yang lebih formal.
“Ini menunjukkan bahwa kemitraan kita bukan sekadar aspirasi. Kerja sama ini sedang bergerak menuju proyek-proyek konkret yang dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Delegasi Indonesia juga dijadwalkan mengunjungi sejumlah pusat bisnis dan perusahaan di Mangaung untuk melihat secara langsung potensi ekonomi daerah tersebut. Kunjungan itu diharapkan dapat membuka peluang baru dan mempertemukan dunia usaha Indonesia dan Afrika Selatan dalam berbagai sektor strategis.
Menutup sambutannya, Tudiono menegaskan bahwa ketidakpastian ekonomi global justru harus dipandang sebagai peluang untuk mempererat kerja sama.
“Dengan keterlibatan yang semakin kuat, konektivitas yang lebih baik, dan kolaborasi yang praktis, saya yakin Indonesia dan Mangaung dapat membuka peluang baru serta menciptakan kemakmuran bersama bagi masyarakat kita.”
Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Cape Town, lanjutnya, akan terus berkomitmen memfasilitasi koneksi bisnis dan mendorong penguatan kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Afrika Selatan.(cah)







