Dari Mbebekan ke Table Mountain

oleh
Sungai Metro Mbebekan Malang patung buaya dan batu tempat kami mencuci pakaian setiap minggu.(lukisan tudiono)

Oleh: Tudiono*

Tidak banyak yang menyangka bahwa dua anak kampung dari Mbebekan, Sukun, Malang, yang semasa kecil berjualan kacang di Bioskop Kelud, kelak akan berkarier sebagai diplomat dan bertugas hingga ke Afrika Selatan.

Mereka adalah kakak beradik, Sugeng Wahono dan Tudiono. Pada sekitar tahun 1979–1982, saat masih duduk di bangku sekolah dasar, keduanya membantu keluarga dengan berjualan kacang di Bioskop Kelud Malang.

Sepulang berjualan, mereka sering tiba di rumah sekitar pukul 22.00 malam, bahkan terkadang mendekati tengah malam. Perjalanan pulang dilakukan dengan becak jika memiliki uang lebih, atau berjalan kaki jika tidak.

Namun, di balik keterbatasan itu, orang tua dan kakak mereka, Mulyono, menanamkan nilai tanggung jawab dan kemandirian yang kuat.

Pada hari libur, mereka tetap harus mencuci pakaian sendiri, membantu pekerjaan rumah, dan belajar menjalani hidup dengan disiplin.

Atas izin dan pertolongan Allah SWT, perjalanan hidup keduanya kemudian membawa mereka jauh melampaui batas yang pernah mereka bayangkan.

Sugeng Wahono diterima sebagai diplomat Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia pada tahun 1991 dan mengikuti Sekolah Dinas Luar Negeri Angkatan XVII.

Setahun kemudian, ia mendapat penugasan dalam misi pemeliharaan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Johannesburg, Afrika Selatan.

Sementara itu, Tudiono diterima di Kementerian Luar Negeri pada tahun 1994 dan mengikuti Sekolah Dinas Luar Negeri Angkatan XX. Sejak Agustus 2023 hingga saat ini, ia bertugas sebagai Konsul Jenderal Republik Indonesia di Cape Town, Afrika Selatan.

Perjalanan dari kampung kecil di Malang menuju ujung selatan Benua Afrika merupakan kisah yang tidak pernah terlintas dalam benak mereka saat masih kecil.(bersambung)

*)penulis adalah Konsul Jenderal Republik Indonesia di Cape Town

No More Posts Available.

No more pages to load.