
Oleh: Tudiono*
Lika-liku perjalanan hidup yang dilalui sejak masa kecil tidak hanya dituangkan dalam bentuk tulisan, tetapi juga diabadikan melalui kanvas dan cat minyak.
Melukis menjadi salah satu cara Tudi merawat ingatan, mengenang kampung halaman, sekaligus mensyukuri perjalanan panjang yang telah dilalui.
Berbagai kenangan masa kecil di Mbebekan kemudian hadir kembali dalam bentuk lanskap sawah, sungai, pohon randu alas, rumah sederhana, hingga suasana pagi yang sunyi.
Setiap sapuan kuas seakan menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.
Setelah bertugas di Cape Town, perhatian dan inspirasi baru pun hadir. Salah satu ikon paling terkenal di kota itu adalah Table Mountain, gunung megah yang menjadi simbol Cape Town dan dikenal di seluruh dunia.
Dalam salah satu lukisannya, Tudi menghadirkan seekor keluarga bebek dengan latar belakang Table Mountain. Lukisan tersebut diberi makna sederhana namun mendalam: “Mbebekan telah sampai di Table Mountain.”
Bebek menjadi simbol kampung Mbebekan tempat ia dibesarkan, sementara Table Mountain melambangkan perjalanan hidup yang membawanya hingga ke ujung selatan Benua Afrika.
Sebuah perjalanan yang dahulu terasa mustahil bagi anak kecil yang pernah berjualan kacang di bioskop dan bermain di tepian Sungai Metro.
Selain itu, ia juga melukis berbagai satwa liar yang menjadi bagian dari kehidupan dan identitas Afrika Selatan, seperti singa, cheetah, zebra, dan berbagai satwa lainnya.
Bagi Tudi, satwa-satwa tersebut bukan sekadar objek lukisan, melainkan simbol keberanian, ketahanan, kecepatan, dan semangat untuk terus melangkah maju.
Pada akhirnya, baik tulisan maupun lukisan hanyalah cara sederhana untuk merekam jejak kehidupan. Jejak tentang sebuah keluarga sederhana dari kampung Mbebekan yang berjuang dengan segala keterbatasan, bekerja sejak kecil, belajar menghargai setiap kesempatan, dan percaya bahwa pertolongan Allah selalu hadir bagi mereka yang tidak menyerah.
Perjalanan dari tepian Sungai Metro menuju Table Mountain bukanlah kisah tentang keberhasilan seseorang semata. Ia adalah kisah tentang harapan, kerja keras, persaudaraan, dan keyakinan bahwa tidak ada mimpi yang terlalu jauh untuk diraih ketika Allah berkehendak.(habis)
*)penulis adalah Konsul Jenderal Republik Indonesia di Cape Town







