Pancarkan.com
Peristiwa

Fenomena Abrasi di Pesisir Utara Jawa Timur

SURABAYA, PETISI.CO – Akhir-akhir ini fenomena abrasi sering terjadi, bahkan hampir merata terjadi di 22 kabupaten/kota di wilayah pesisir utara dan selatan Jawa Timur.

Menurut Kabid Kelautan, Pesisir dan Pengawasan Dinas Kelautan dan Perikanan Jatim, Slamet Budiono, abrasi merupakan istilah untuk menggambarkan daerah pantai yang terjadi karena gelombang dan arus laut destruktif.

Pengikisan yang demikian menyebabkan berkurangnya daerah pantai mulai dari yang paling dekat dengan air laut karena menjadi sasaran pertama pengikisan.

Jika dibiarkan, abrasi akan terus menggerus bagian pantai, sehingga air laut akan menggenangi daerah-daerah yang dulunya dijadikan lahan pemukiman penduduk atau fasiltas darat lainnya.

Sebagai salah satu contoh fenomena abarasi yang terjadi di pantai utara Kabupaten Pasuruan tepatnya di sekitar Pelabuhan Lekok telah mengancam dan menggerus pemukiman nelayan, petak-petak tambak, dan areal pemakaman umum. Jika dibiarkan akan menggerus pula Pelabuhan Perikanan Lekok mengingat dalam dua tahun terakhir ini permukaan air laut mengalami kenaikan pengaruh global warming.

Demikian pula di Kabupaten Tuban, puluhan pohon bakau dan cemara laut, di sepanjang pantai utara Kabupaten Tuban, Jawa Timur, roboh dan rusak. Tanaman penangkis abrasi ini rusak akibat di terjang ombak besar dan angin kencang, selama beberapa hari terakhir.

Kondisi paling parah terjadi di Desa Sukorejo, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban. Di lokasi ini beberapa waktu lau hampir 70 persen pohon cemara dan bakau roboh. Sebagian besar akar tanaman terangakat. Tak hanya itu, tanah di sekitar pantai ini juga mengalami longsor lumayan parah.

Menurut Slamet Buidono dalam setahun, daratan di kawasan konservasi ini mundur sepanjang lima hingga enam meter dari bibir pantai.

“Beberapa waktu lalu ombak cukup besar. Angin juga bertiup kencang. Akibatnya tanaman konservasi ini roboh,” katanya.

Abrasi ditandai dalam kondisi ekstrim saat terjadi rob atau pasang tertinggi. Fenomena-fenomena alam yang menyebabkan abrasi diantaranya adalah pasang surut air laut, angin di atas lautan yang menghasilkan gelombang serta arus laut yang berkekuatan merusak. Faktor-faktor yang menyebabkan abrasi dari ulah manusia diantaranya adalah ketidakseimbangan ekosistem laut dan pemanasan global.

Ketidakseimbangan ekosistem laut misalnya terjadi akibat eksploitasi besar-besaran terhadap kekayaan laut mulai dari ikan, terumbu karang, lamun dan mangrove yang pada akhirnya menyebabkan timbulnya arus dan gelombang laut secara besar-besaran mengarah ke pantai dan menyebabkan abrasi.

Faktor lain yang menandai sekaligus menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem adalah penambangan pasir. Penambangan pasir pantai yang terjadi besar-besaran dengan mengeruk sebanyak mungkin pasir serta dalam intensitas yang juga tinggi dapat mengurangi volume pasir di lautan bahkan mengurasnya sedikit demi sedikit.

Hal ini kemudian berpengaruh langsung terhadap arah dan kecepatan air laut yang akan langsung menghantam pantai. Ketika tidak ‘membawa’ pasir, air pantai akan lebih ringan dari biasanya sehingga ia dapat lebih keras dan lebih cepat menghantam pantai sehingga proses yang demikian turut memperbesar kemungkinan terjadinya abrasi.

Mengetahui dan menanggapi hal demikian Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur saat ini telah melaksanakan kajian terhadap fenomena dampak abrasi dengan pemasangan sabuk pantai di sepanjang lokasi di Lekok, Pasuruan.

Pemasangan sabuk pantai ini berfungsi sebagai media untuk mengurangi energi gelombang saat gelombang tersebut pecah pertama kali. Dengan tereduksinya energi gelombang, maka diharapkan energi gelombang tidak menggerus keberadaan bangunan di pesisir.  Sabuk pantai itu menggunakan bahan geotekstil yang diisi pasir dan ditenggelamkan di laut.

Hasilnya, ombak yang semula langsung menghantam pantai, menjadi tertahan dengan adanya sabuk tersebut. Dengan demikian, ombak yang menghantam pantai bisa berkurang sehingga abrasi pun dapat diminimalisasi.

Penggunaan geotekstil menurut Slamet Budiono dianggap paling baik dibanding material lainnya yang kurang tahan lama. Jika pilot project di Lekok, Pasuruan ini berhasil secara bertahap akan diterapkan di daerah pesisir  lainnya. (oki)

 

Related posts

Golden Award IV Malam Anugerah Olahraga Siwo PWI 2021

Masih Banyak Warga Kurang Mampu Luput Dari Program JKN-KIS

redaksi

Kodim 0815 Mojokerto Gelar Uji Terampil Perorangan

redaksi