Meningkatkan Kualitas PT, Belajarlah Pada Presiden BJ Habibie

80 views
banner 468x60)

Oleh : Ken Bimo Sultoni*

Rencana Menristekdikti Muh. Natsir untuk mendatangkan rektor asing menjadi pembahasan menarik dalam kajian masa depan pendidikan bangsa ini. Perekrutan rektor asing ini direncanakan akan dimulai pada tahun 2020 mendatang dengan catatan menyesuaikan regulasi dan persiapan yang ada, guna menghindari kesalahan dan memaksimalkan dampaknya terhadap kemajuan kualitas Perguruan tinggi di Indonesia

Akan tetapi, meski niatan baik ini muncul, masih banyak kalangan yang mengganggap kurang dirasa perlu untuk dapat merevolusi kualitas pendidikan di Indonesia. Dengan alasan, bahwa masih banyak kelemahan dalam segi sistem, kebijakan dan juga kesejahteraan tenaga pendidik di Indonesia untuk dapat meaksimalkan potensinya dalam meningkatkan kualitas perguruan tinggi (PT).

Atau mungkin saja kita bisa mencoba mengulas kembali kesuksesan pendidikan Indonesia di era awal negeri ini meredeka. Dikutip dari laman kemendikbud.go.id bahwa banyak kebijakan yang telah dihasilkan oleh para presiden pendahulu guna memaksimalkan potensi pendidikan Indonesia sesuai dengan masalah dan tantangan zaman itu.

Di era Bung Karno pendidikan berfokus pada pendidikan sosialisme yang bertujuan untuk membangkitkan semangat nasionalisme dan perlawanan terhadap sistem pendidikan kolonial yang dianggap sebagai suatu bentuk penjajahan akal budi.

Dalam hal ini Soekarno berfokus untuk dapat mencetak generasi yang mempunyai identitas kebangsaan yang kuat dan juga jiwa patriotisme sehingga tak heran bila ia mengangkat pendidikan gaya sosisalisme sebagai elemen penunjangnya.

Sosialisme Indonesia merupakan salah satu materi dalam mata pelajaran tersebut. Pendidikan sosialisme Indonesia didapat melewati akal dan pengalaman empiris.

Seokarno pun pernah berkata:

“…sungguh alangkah hebatnya kalau tiap-tiap guru di perguruan taman siswa itu satu persatu adalah Rasul Kebangunan! Hanya guru yang dadanya penuh dengan jiwa kebangunan dapat ‘menurunkan’ kebangunan ke dalam jiwa sang anak”

Dari perkataan Soekarno itu sangatlah jelas bahwa pemerintahan Orde Lama menaruh perhatian serius yang sangat tinggi untuk memajukan bangsanya melalui pendidikan.

Selanjutnya ada pada era kepemimpinan Soeharto, apabila kebijakan pendidikan Soekarno terkenal dengan jiwa kebangsaan dan visi besar bangsa akan identitas patriotis,  beda halnya dengan Soeharto.

Dalam hal ini Soeharto cenderung meningkatkan kualitas pendidikan lewat beberapa paket pembangunan secara umum. Sejak Pelita I hingga Pelita V mutu pendidikan terus-menerus dijadikan salah satu kebijakan pokok dan peningkatan mutu pendidikan di era Presiden Soeharto cenderung secara patuh melaksanakan kebijakan Bank Dunia.

Meski begitu dalam hal ini Soeharto fokus pada pengembangan kualitas pendidikan lewat perbaikan infrastruktur penunjang pendidikan dan pembenahan sistem, agar dapat seragam dan rapi, sehingga menghasilkan generasi yang dirasa cakap dan rata dalam segi pembangunan nasional.

Di era Soeharto ini, seorang penyanyi beraliran country bernama Iwan Fals merekamnya pada sebuah lagu berjudul Oemar Bakrie dalam albumnya yang berjudul Sarjana Muda pada tahun 1981. Isi lirik lagu yang satir dan menyentil kebijakan pendidikan pemerintah saat itu seperti direkam dengan baik olehnya. Kualitas guru yang ada saat ini sangatlah baik hingga dapat menghasilkan orang-orang pintar sekelas B. J Habibie yang menjadi ilmuwan ternama Indonesia di mata dunia.

Di saat itu pula negara tetangga kita Malaysia yang saat ini salah satu kampusnya duduk sebagai peringkat 100 besar universitas terbaik dunia Universiti Malayasia (70) menurut QS-WUR pernah berguru ke Indonesia. Seperti dikutip dari tirto.id melihat kompetensi guru Indonesia yang cukup menarik di mata negara asing, khususnya Malaysia, Pemerintah Orde Baru mulai mengirim tenaga guru terdidik ke Malaysia sebagai bagian langkah normalisasi hubungan Indonesia-Malaysia pada 1966.

Ekspor guru ke Malaysia juga berasal dari permintaan langsung Pemerintah Malaysia sebagai tindak lanjut terbentuknya kembali lembaga persahabatan kedua negara. Guru Indonesia di Malaysia kala itu umumnya ditugaskan selama tiga tahun di sekolah-sekolah menengah yang menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar.

Mereka bertugas memperbaiki tata bahasa Melayu pelajar-pelajar Malaysia yang terbiasa bercakap-cakap dalam bahasa Inggris. Selain itu, ada pula upaya memperbaiki kurikulum sains peninggalan Inggris yang dinilai sudah usang. Sampai Juni 1972, terdapat 175 guru Indonesia yang tinggal dan bekerja di Malaysia.

Merujuk pada laporan Kompas (31/5/1967), rencana Malaysia mengimpor guru dari Indonesia diutarakan langsung oleh Menteri Pendidikan Malaysia Mohamed Khir Johari melalui acara konferensi pers di Jakarta pada bulan Mei 1967.

Diwakili Johari, Pemerintah Malaysia mengutarakan bahwa negerinya belum memiliki banyak lulusan perguruan tinggi, sehingga membutuhkan banyak tenaga pengajar terdidik di bidang ilmu pengetahuan, teknik, dan sastra Melayu dari Indonesia.

Satu tahun setelah Johari mengunjungi Indonesia, sebuah tim yang dibentuk di lingkungan pejabat Kementerian Pelajaran dan Kantor Urusan Pegawai Malaysia kembali mengunjungi Indonesia di akhir tahun 1968. Mereka diutus untuk merekrut guru dan dosen yang dapat segera ditugaskan di sekolah-sekolah menengah dan universitas di Malaysia.

Hal ini pastinya merupakan suatu prestasi tersendiri yang dimiliki oleh Indonesia, bagaimana negara ini dapat membuat negara yang ia ajari dapat melebih prestasi yang ia dapat.

Disisi lain hal ini juga merupakan sebuah ironi yang dihadapi bangsa ini, karena nyatanya adalah masih banyak dari tenaga pendidik Indonesia yang kualitas hidupnya tidak selaras dengan apa yang telah mereka berikan.

Hal ini terbukti dari honor tenaga pengajar yang rendah meski disokong oleh infrastruktur yang baik.

Seperti yang dikutip pada laman kemendikbud.go.id masa pemerintahan Presiden Habibie, merupakan masa transisi reformasi. Isu otonomi pendidikan sebenarnya hak bagi setiap institusi untuk memutuskan apa yang baik  bagi sebuah institusi tanpa ada gangguan dari pihak luar. Konsep ini jelas datang dari semangat kebebasan akademis, ketika hak-hak akademis individu untuk mengekspresikanopini mereka terjamin.

Di dalam Magna Carta of European Universities yang ditandatangani pada 1988 oleh para rektor dari Universitas terbaik se-Eropa dikatakan bahwa universitas merupakan lembaga yang otonom di tengah-tengah masyarakat yang sangat beragam, baik secara geografis maupun budaya.

Universitas adalah produsen utama hampir seluruh produk sosial, politik, dan budaya yang bersinggungan langsung dengan kehidupan masyarakat.

Dalam rangka menarik minat pasar, pendidikan tinggi di Indonesia harus membuka program-program pelatihan, sertifikasi, serta kuliah jarak jauh yang dikelola dengan logika kolaboratif, yaitu ketersambungan dunia bisnis dan pendidikan.

Networking atau jejaring adalah kata kunci yang harus dikembangkan secara terus-menerus oleh setiap universitas dalam rangka mencari pola partnership yang tepat antara universitas dan lembaga keuangan (bisnis, entertainer) dan lembaga riset.

Yang menarik dari kebijakan B.J Habibie disini adalah ia menjunjung tinggi otonomi perguruan tinggi untuk dapat menentukan yang terbaik dari masing masing pola pendidikan yang ada, sehingga menghasilkan generasi penerus yang dinamis dan beragam dan berlawanan dengan kebijakan Soeharto yang cenderung menyamaratakan.

B.J Habibie mungkin saja apabila dibandingkan dengan kebanyakan presiden Indonesia yang sudah ada merupakan presiden yang paling paham terkait dunia pendidikan, dikarenakan latar belakangnya sebagai seorang ilmuwan dan akademisi.

Dan bukan tanpa alasan ia mendorong kampus kampus untuk dapat menjalankan konsep yang tertuang pada Magna Carta of European Universities. Karena ia sangat paham bahwa lingkungan kampus adalah lingkungan akademis yang heteregon dan mempunyai keunikannya masing-masing.

Solusi yang ditawarkannya pun juga sangat menarik untuk dapat dikembangkan di era sekarang ini, kualitas pendidikan Indonesia bukan hanya berasal dari segi ranking, akan tetapi perbaikan lingkungan kampus dan inovasi yang dihasilkan para lulusannya, merupakan suatu prestasi tersendiri yang diharap mampu digalakkan kembali di era modern ini.

Penulis dalam hal ini terinspirasi oleh salah satu film yang dibintangi oleh artis populer India Aamir Khan yang berjudul 3 idiots. Dalam salah satu cuplikan scene filmnya terdapat argumen antara Ranchodas yang diperankan oleh Aamiir Khan dan rektornya yang diperankan oleh Boman Irani.

Disaat itu sang rektor sesumbar, bahwa ia telah berjasa menaikan peringkat universitasnya dari peringkat rendah menuju peringkat pertama di negeri itu. Dia melakukannya dengan cara yang tanpa pandang bulu melihat kompetensi yang dimiliki oleh para siswanya dan hanya berfokus pada regulasi dan aturan-aturan yang terkesan statis.

Setelah itu sosok rancho menanggapi bahwa hasil yang didapat dari universitas itu hanya sebuah kepalsuan semata, karena nyatanya keberhasilan lulusan-lulusan terbaik yang ada hanya dapat bekerja di Amerika sebagai pembandingnya dan tidak ada lulusan dari universitas itu yang berani untuk menghsailkan sebuah inovasi dan pembaharuan untuk negerinya  sendiri.

Ia menyamakan universitas itu dengan sebuah mesin bertekanan tinggi yang selalu ditekan untuk dapat lulus dan memberikan ranking terbaik tanpa diberikan celah untuk dapat berinovasi dan menghasilkan sesuatu yang baru.

Sepertinya film itu menjadi cerminan dari bangsa ini untuk dapat mengatur pendidikan Indonesia yang berkualitas, karena masih banyak kelemahan yang dimiliki dunia pendidikan Indonesia dan ranking nyatanya bukanlah sebuah tolok ukur yang nyata untuk dapat dipamerkan.

Akan tetapi kontribusi dan aksi nyata para lulusannya lah yang harus dikembangkan agar negeri ini bisa menjadi berkeadilan dan mencapai kemakmuran sesuai dengan visi para pendiri bangsa ini.(#)

*penulis adalah mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fisip Universitas Diponegoro, aktivis HMI Cabang Semarang

banner 468x60)
banner 468x60)